Beberapa waktu lalu, Iftida Yasar mengikuti konferensi perburuhan se-dunia (ILC) di Jenewa, kota tua di Swiss yang menyimpan sejuta pesona. Berikut cuplikan kisahnya:
Sebelum berangkat untuk mengikuti sidang tahunan ke 95 International Labour Conference (ILC) saya tidak sempat mengecek berapa suhu udara di sana. Karena sudah masuk ke musim semi, maka saya perkirakan cuaca sekitar 18 sampai 20 derajat C. Begitu mendarat di bandara Zurich dan keluar dari pesawat, angin dingin terasa menusuk tulang diitambah hujan gerimis membuat saya kedinginan. Saya menyesal tidak membawa persediaan baju hangat yang memadai. Rupanya suhu masih antara 10 - 12 derajat C.
Suasana demam piala dunia sepakbola 2006 sudah mulai terasa begitu memasuki bandara Dubai International Airport.Semua pesawat Emirates ditulis “Official partner for world Cup 2006, Germany “. Di Genewa rupanya ada pertandinganpersahabatan antara Brazil dan New Zealand.Sepanjang jalan dipenuhi para supporter Brazil yang mengenakan kostum berwarna hijau kuning.
Memasuki hari ketiga apalagi sudah menuju kearah selatan daerah yang lebih hangat yaitu Geneva membuat perjalanan ini menjadi lebih menyenangkan. Walaupun masih musim semi, matahari sampai jam 22.00 masih bisa dinikmati sambil minum kopi menghadap danau atau sungai yang jernih dengan latar belakang pegunungan yang hijau.Walaupun menurut ukurn orang asia udara masih sejuk tapi orang Swiss pada saat istirahat makan siang sudah mulai berjemur diri ditaman sambil menikmati makan siang.
Rata-rata kota di Swiss dikelilingi oleh pegunungan Alpen yang masih menyisakan salju di puncaknya dan juga memiliki sungai dan danau yang jernih dan banyak ikannya. Ada tiga bahasa yang sering dipakai di Swiss yakni bahasa Jerman yang merupakan bahasa nasional, bahasa Perancis dan bahasa Italia. Jadi, jika Anda baru saja belajar menggunakan bahasa Jerman dengan Gutten Morgen ketika di Zurich, begitu sampai di Geneva sudah berubah lagi menjadi Bonjour. Sayang sekali, saya tidak sempat menginjakkan kaki di daerah yang berbatasan dengan Italia, sehingga ucapan salam Bonjorno belum sempat dipakai.
Sepanjang pengamatan saya, rata-rata orang Swiss cantik dan ganteng. Wanitanya ramping dengan kulitnya yang halus. Laki-lakinya juga ganteng dan menarik, termasuk kondektur kereta api yang saya saya jumpai, yang gantengnya mirip dengan David Beckham. Mereka juga ramah dan helpfull jika kita menanyakan tentang sesuatu. Angkutan umum seperti kereta api, bis dan boat sangat baik dan nyaman.Jangan tanya berapa harganya, sebab jarak sekitar 10 km saja kita harus membayar sekitar Rp 30.000/sekali perjalanan. Lebih baik membeli karcis terusan yang dapat digunakan untuk angkutan kereta api, bis dan boat.
Saya membeli karcis terusan untuk 4 hari yang bisa digunakan tidak secara berurutan yang dapat digunakan untuk seluruh Swiss dengan harga 295 Swiss frank.Harga ini kalau di kurs cukup mahal sekitar Rp 2.250.000,- tapi jauh lebih murah dibandingkan jika kita membeli secara satuan. Dengan karcis ini saya berkeliling ke Lucerne, suatu kota tujuan wisata yang sangat indah yang jaraknya 2 jam dari Zurich.
Saya juga menikmati indahnya danau di Lucerne dengan naik kapal pesiar yang berkeliling melewati kota-kota kecil yang indah di sekitar pegunungan. Jangan lupa untuk mengambil rute "Golden Panaromic" yaitu sebuah perjalanan dengan kereta wisata yang memakan waktu sekitar 10 Jam pulang pergi menikmati indahnya seluruh dataran Swiss dengan pemandangan alamanya yang sangat bersih dan indah.
Soal makanan, di kota ini sangat mahal. Makan siang yang sederhana di restoran Thai, misalnya nasi dengan tumis ayam dan sayur serta teh panas menghabiskan sekitar Rp140.000/orang.
Sebenarnya masih banyak obyek iwisata utama di Jenewa. Misalnya Jet d'Eau (jet-air atau air mancur) dengan ketinggian 140 meter di Danau Jenewa yang dapat dilihat dari seluruh kota. Tempat wisata lainnya adalah Flower Clock, Art and History Museum (Museum Seni dan Sejarah), International Red Cross and Red Crescent Museum (Museum Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional), serta Palais des Nations yang merupakan markas PBB di Eropa.
Setelah beberapa hari menikmati indahnya Jenewa, saya jadi teringat Indonesia. Rasanya kita banyak mempunyai pemandangan yang sama indahnya dengan Swiss, tapi perbedaan besarnya adalah di Indonesia sampah bertebaran dimana-mana.
Rabu, 01 April 2009
Senin, 30 Maret 2009
Udine, Italy


Dalam pelatihan yang saya ikuti di Manheim Jerman, setiap Sabtu dan Minggu saya mendapatkan hari libur.Kesempatan ini saya gunakan untuk mengunjungi sahabat saya Paola di Udine, Italy. Karena Udine jauh sekali dari Manheim dan kota kecil serta tujuan saya sangat spesifik bertemu Paola, maka teman saya yang lain tidak mau ikut, mereka memilih jalan2 ke Paris. Tiket kereta api mahal sekali pada waktu itu, kalau di kurs sekitar 2 juta rupiah PP.Demi teman yang sudah 12 tahun tidak bertemu saya memilih tetap ke Udine. Saya dan Paola bersama mengikuti pelatihan selama 5 bulan di Morgantown West Virginia Amerika Serikat pada tahun 1988. Paola pada saat itu adalah seorang pekerja sosial disuatu Lembaga Swadaya Masyarakat yang mengurus masalah perempuan.
Jam 6 sore saya bergegas naik kereta api dari Manheim ke Udine, cuaca dingin sekali sekitar 7 derajat. Perjalanan malam kurang berkesan karena saya harus berganti kereta api 3 kali dan harus membangunkan para bule yang tidur menempati kursi. Sebagai orang Timur mungkin kita terlalu sopan dalam menbangunkan tapi kalau sesama bule mereka dengan tegas meminta agar yang tidur segera mengambil posisi duduk. Pemeriksaan pasport berlangsung di perbatasan Swiss kalau tidak salah dan waktu masuk ke wilayah Italy.Ada kondektur yang pernah ke Bali sehingga waktu dia memeriksa pasport kami sempat mengobrol.
jam 5 shubuh saya sudah sampai di stasiun kereta api Udine, kecil dan sepi karena masih pagi. Paola belum menjemput sehingga ditengah dinginnya udara saya bersama turis backpacker lainnya tiduran di bangku stasiun menunggu pagi. Jam 6 pagi saya dijemput Paola yang sudah berubah banyak terlihat lebih tua dibandingkan saya yang katanya tidak berubah sejak 12 tahun yang lalu. Kami menuju apartemennya yang mempunyai kamar 2 dengan ruang keluarga yang cukup luas. Paola sangat rapi dan menata rumahnya dengan indah dan bersih. Seperti layaknya dua sahabat yang sudah lama tidak bertemu kami mengobrol tentang masa di Amerika, dan saya juga cerita bertemu dengan Wolfgang di Hannover.Paola mempunyai 2 anak laki-laki seperti saya dan sekarang mereka semua berada dirumah neneknya di tepi pantai.Walau di Jerman udara cukup dingin tapi di Udine orang sudah mulai menikmati cuaca yang cukup hangat dan berjemur si pantai.
Sepanjang jalan menuju rumah pantai Paola menperdengarkan remakan kaset pada saat saya menyampaikan suatu presentasi.Sungguh menakjubkan mendengar kefasihan saya berbahasa Inggris sangat hebat. Kami tertawa terbahak-bahak sebab sekarang kemampuan itu sudah berkurang, apalagi Paola dengan aksen Italynya yang kental.Paola dan keluarga besarnya berada dirumah pantai, saya dikenalkan dengan orang tuanya, kakaknya dan anaknya yang ganteng-ganteng. Pasangan hidup Paola saya lupa namanya sebab mereka tidak menikah dan Paola enggan menyebutkan dia adalah suaminya.
Orang Italy hangat dan bersahabat, mereka masih memukul pantat anaknya jika menegur dan berbicara rame seperti orang Batak kedengarannya. Jika orang bule suka berjemur maka saya sedapat mungkin memakai topi dan payung pada saat jalan kepantai. Kami berjalan-jalan mengitari kota pantai di Udine dan makan ice cream Italy yang terkenal lezat dan membeli sepatu buatan Italy. Saya mampir ke supermarket membeli beberapa macam pasta dan saus2 khas Italy untuk oleh-oleh. Malamnya bersama seluruh keluarganya kami makan pizza yang sangat lezat dan berbeda dengan pizza di Indonesia. Kulit pizza tipis dan renyah serta paduan bumbu bawang putih dan tomat yang segar dan pas. Karena besar sekali, maka pizza bayam yang saya pesan tidak habis dan saya bungkus buat besok dimakan di jalan.Keluarga Paola menyukai oleh-oleh yang saya bawakan, ibunya langsung memakai daster batik pada waktu kami makan malam.
Sepanjang malam kami mengobrol segala macam dan baru tidur jam 2 pagi. Saya tinggalkan beberapa baju Bali karena Paola menyukainya dan saya diberi sepatu kulit Italy yang sebenarnya mirip dengan sepatu kulit buatan jogya.
Pagi harinya jam 6 saya harus kembali ke Jerman, di stasiun kami bertangisan sebab begitu cepat waktu berlalu dan masih banyak cerita yang masih ingin kami tukar. Paola pernah ke Bali dan mampir sebentar di cengkareng untuk transit.Sayang pada saat itu saya tidak bisa bertemu dan hanya dapat menitipkan oleh-oleh melalui teman saya yang bekerja di bandara.Ciao Paola till we meet again
Amsterdam

Saya bersama teman dari Vietnam dan Philipina jalan-jalan ke Amsterdam pada hari libur kami Sabtu dan Minggu ditahun 2000 pada saat mengikuti pelatihan di Manheim Jerman. Kalau kita beli karcis kereta api sendiri harganya misalnya Rp 100.000/orang, kalau pergi berdua menjadi Rp 80.000/orang, kalau bertiga menjadi Rp 70.000/orang dan kalau berempat menjadi sekitar Rp 60.000/orang. Kalau kita pergi berlima maka harga karcis yang kelima sama dengan kalau kita pergi sendiri. Pengaturan harga ini sangat membantu bagi pelancong dari Asia yang uang sakunya kalau di kurs ke Euro jadi miskin banget.Seingat saya tahun 2000 Jerman masih menggunakan mata uangnya sendiri belum Euro.
Kami naik kereta malam yang sampai Amsterdam pagi hari. Di stasiun dijemput oleh teman saya Henk van Santen yang merupakan salah satu ahli uang palsu di ABN AMRO Belanda. Saat itu saya adalah training manajer ABN AMRO Bank Jakarta, sehingga dua kali Henk pernah mengajar di Jakarta, Bali, Medan dan Surabaya bersama saya. Udara Amsterdam dingin dan mendung, kadang disertai hujan kecil yang datang tiba-tiba. Saya selalu salah naik mobil, selalu mau duduk disebelah kiri depan, padahal itu adalah untuk sopir di Eropah.
Hari masih pagi dan kami ditraktir makan pagi oleh Henk di sebuah cafe, hemm sungguh lezat roti bakar, telur orak arik dan susu coklat. Henk yang membayar semua makan pagi kami, padahal katanya orang Belanda pelit, makanya ada pepatah ”go by Dutch” atau apa gitu yang artinya bayar sendiri-sendiri. Oleh Henk kami dibawa berjalan-jalan melewati area lampu merah disekitar stasiun kereta api.Pelacuran dan obat bius adalah hal yang legal di Belanda.Jadi kami terkagum-kagum dengan pajangan para perempuan berbagai jenis kulitnya yang mejeng nyaris telanjang didepan kaca etalase. Mereka profesional ya, sebab dalam udara dingin tetap berpakaian minim, tapi saya ga tau juga apakah udara didalam hangat. Beberapa kali jika saya terpisah jauh dari Henk kami didekati oleh orang yang menawarkan obat bius, kalau dekat Henk mereka tidak berani sebab penampilan Henk yang tinggi besar hampir 2 m cukup menakutkan apalagi dia bekas polisi.
Kami naik kapal air mengelilingi Amsterdam, lagi-lagi Henk yang bayar buat kami bertiga, mungkin dia mengerti bahwa sebagai turis backpacker kami perlu dibantu, atau Henk ingin balas kebaikan juga sebab selama di Indonesia saya selalu menemani dengan baik. Mengagumkan bagaimana Belanda yang daratannya berada dibawah permukaan laut dapat bertahan beratus tahun tanpa kebanjiran. Kanal-kanal air dulu juga dibangun Belanda di Batavia, tapi karena kita tidak mengurus dengan baik ya hasilnya Jakarta terendam banjir tiap tahun.Kalau lagi jalan-jalan hujan datang tiba-tiba, maka kami orang Asia cepat-cepat memakai payung atau berteduh menutup kepala, tapi orang Belanda cuek saja. Saya tanya apa ga takut flu atau pusing, sebab kami dari kecil tertanam diotak bahwa jangan main hujan nanti pusing atau flu. Henk tertawa sebab di Belanda orangtua tidak pernah mengajarkan hal itu kepada anaknya, jadi kalau kehujanan ya ga akan pusing atau flu. Rupanya kebiasaan dan asumsi yang tertanam dari kecil yang membuat kita takut sama hujan.
Tahun 2000 di Amsterdam ada piala Euro, suasananya hiruk pikuk dengan para supporter yang memakai baju kesebelasan kesayangannya.Dimana-mana dijual kaos dan cindera mata yang berbau bola.Titipan anak saya kaos akhirnya dapat saya belikan setelah berputar-putra cari harga yang dapat terjangkau. Henk mengantar saya ke stadion bola terbesar yang berada diatas jalan raya, jadi stadion itu diatas dan mobil dapat lewat dibawahnya.
Karena siang Henk ada acara, maka saya dijemput lagi oleh Ben van Rooij, teman saya professor yang tahun 1988 bersama selama 5 bulan di Amerika Serikat mengikuti suatu pelatihan. Serah terima terjadi dari Henk ke Ben, ha ha lucu juga dan bersyukur punya teman yang baik dimanapun berada. Ben sudah berusia 62 tahun pada tahun 2000, saya kehilangan kontak kembali dengan dia, semoga Ben masih diberi umur panjang. Kami diajak jalan ke museum menikmati kebesaran Belanda dari abad ke abad, enaknya berada dalam musium yang hangat dan juga penuh dengan kenangan lama. Dekat museum ada perumahan yang jumlahnya sekitar 30 apartemen lama, tapi cantik penuh hiasan bunga dan ditengahnya ada taman dan pohon besar yang hening. Kata Ben tempat ini sangat tenang dan menyenangkan. Teman dari Philipina mau pergi ke gereja, maka kami semua menemani masuk gereja yang juga sangat besar, indah dan megah. Kalau harus masuk gereja sendiri walaupun siang hari rasanya seram juga, sebab suasananya hening, dingin dan seakan ada yang memperhatikan kita.
Tibalah waktu berpisah, sebab kami harus mengejar kereta malam yang akan membawa kami kembali ke Manheim. Jam 8 malam karena akhir musim semi, langit masih terlihat cerah, saya harus berpisah dengan Ben setelah hampir 12 tahun tidak bertemu. Katanya Ben pernah ke Bali dan ke Jakarta tapi tidak dapat menghubungi saya. Istri Ben yang pertama orang Suriname sudah meninggal, saya sempat berkenalan dengan anaknya yang perempuan sangat cantik, perpaduan Suriname dan Belanda. Teman wanitanya yang sekarang juga orang Suriname tapi tinggal di Suriname, jadi Ben sering berkunjung kesana.okay Ben sampai ketemu, semoga kita diberi umur panjang untuk bertemu lagi. Ik lieve je (mudah-mudahan tidak salah nih)
Hannover, Jerman

Tahun 2000 saya mengikuti program di Jerman untuk pelatihan buat perempuan yang berkaitan dengan pilihan karir pekerjaannya. Ada satu hari dimana kita diajak ke Hanovver suatu kota yang waktu itu sedang diadakan expo tentang keadaan seluruh negara di dunia. Kota Hannover sendiri modern dan bersih, suasana Expo begitu bagus dan tertata dengan rapi.Stand Indonesia dengan andalannya Bali menempati pavilun yang sangat luas. Saya juga mampir ke stand Yaman tempat salah seorang peserta pelatihan dan mencoba menghisap shisa disana.
Karena mempunyai cukup banyak waktu, maka saya janjian dengan sahabat lama saya Wolgang Just untuk mampir kerumahnya. Wolfgang dan saya menjadi peserta pelatihan di Amerika Serikat pada tahun 1988 di Morgantown West Virginia selama 5 bulan. Kami sudah seperti keluarga karena mengikuti pelatihan dalam jangka waktu yang cukup lama. Saya dijemput ditempat expo dan ketika bertemu Wolfgang tidak banyak berubah tetap awet muda.
Kami menuju rumahnya yang cukup besar dan asri dengan 3 kamar tidur, ruang kerja dan terdiri atas 2 lantai.Istrinya bernama Ula, dan karena mereka tidak punya anak, mereka mengangkat seorang anak perempuan yang sangat manis berambut panjang. Anak tersebut diambil sebab kedua orang tuanya mengalami gangguan jiwa sehingga tidak bisa mengurus anaknya. Orang barat sangat rasional dan sosial, mereka dalam mengangkat anak betul betul hanya mau menolong, mungkin kalau kita agak ragu jika mengetahui sejarah orang tuanya yang sakit jiwa. kami mengobrol sambil minum teh didapur rumah dan Wolfgang bercerita kalau Sue teman kami di Morgantown pernah menginap juga di rumahnya.
Saya diajak Wolfgang dan putrinya berjalan2 melihat kota Hannover dan sempat berfoto disebuah kastil dan taman bunga yang sangat rapi dan indah.Saya dan putri Wolfgang memakai rok Bali dengan warna senada ungu, oleh2 yang saya bawa langsung dipakai.
Setelah selesai saya diantar kembali ke tempat Expo, senang rasanya bertemu teman lama yang sudah 12 tahun tidak bertemu. Sahabat dimanapun dan apapun warna kulitnya tetap namanya sahabat.
Minggu, 01 Maret 2009
New York

Tahun 1988 saya mendapat kesempatan mengikuti program pekerja sosial yang diselenggarakan oleh CIP (Council of International Program) yang berkantor pusat di OHIO. Saya ditempatkan di Morgantown kota kecil di West Virginia. Dari Jakarta ke Los Angeles saya belum mengalami gegar budaya, sebab dijemput oleh Yudi adiknya Dewi , tetangga saya dan menginap dirumahnya.Waktu itu komunikasi belum secanggih sekarang.Komunikasi masih dilakukan melalui surat menyurat, nelum ada email bahkan mesin fax masih jarang. Oleh karena itu saya kedinginan begitu tiba disana, karena tidak menyangka udaranya begitu dingin. Dikatakan musim semi tapi untuk saya udaranya dingin bukan sejuk.
Gegar budaya baru saya alami setelah dari Los Angeles menuju Newark yang ternyata masih jauh dari New York, naik taksi sekitar 40 menit dengan biaya sekitar $ 40. Turun dari airport mengurus barang sendiri dan berhadapan dengan orang hitam yang bergantian menawarkan membawakan tas saya. Baru sekali saya keluar negeri dan langsung jauh sekali ke Amerika, rasanya saya menjadi demikian kecil dibandingkan para porter yang hitam dan tinggi besar. Di Bandara tersedia meja administrasi untuk membantu peserta yang datang dari seluruh dunia, dan kami bersamaan naik van ke hotel.
Setelah mandi hari masih sore sehingga saya masih ada waktu jalan-jalan disekitar hotel, saya mengambil gambar di Empire State Building dan kagum dengan kuda yang sangat besar, gagah dan cantik yang menarik kereta kuda. Banyak turis dan pasangan yang sedang kasmaran menaiki kereta kuda berkeliling New York. Saya dengan pengetahuan, bahasa dan uang yang minim rasanya sayang sekali harus membayar mahal untuk sekedar naik bendi Amerika. Disepanjang jalan dan stasion kereta banyak orang hitam yang menggelandang, rasanya kasian melihat mereka dipinggir jalan harus menyelimuti dirinya dengan selimut berlapis untuk menahan dingin. Gelandangan Indonesia masih bisa tertawa-tawa bertelanjang dada untuk mengusir gerahnya udara Jakarta.Orang New York stylish dan keren, mereka berjalan cepat seakan dunia mau runtuh. Gaya berjalannya anggun, sombong, dengan balutan mantel musim dingin berwarna hitam, broken white atau coklat dengan sepatu boot dan sarung tangan. Wah rasanya saya jadi ga keren nih, dengan baju dingin seadanya dan sama sekali jauh dari kesan mewah. Untuk makan malam saya mampir ke resto cepat saji yang menyediakan sandwich yang panjang sekali, sekitar 1 m, yang akan dipotong untuk ukuran sekali makan.
Keesokan harinya kami diterima secara resmi di gedung PBB dan mendengarkan arahan dari direktur programnya. Acara dilanjutkan dengan foto bersama didalam dan diluar gedung, saya dengan pakaian nasional baju bodo cukup menggigil kedinginan pada saat diluar.Banyak peserta dari negara lain senang dan mengagumi baju Bodo dengan mahkotanya ditambah dengan sarung songket Palembang yang saya kenakan. Ditengah dinginnya New York saya masih harus sabar meladeni mereka yang mau berfoto dengan saya.
Keesokan harinya bersama dengan peserta lain yang ditempatkan di Morgantown kami melanjutkan perjalan dengan naik mobil combi. Rich sebagai koordinator program yang menyetir, kami ada ber sembilan (dari Belanda, Jerman, Italy, Finlandia, China, Indonesia, Columbia, Perancis dan negara kecil di Afrika saya lupa nama negaranya) meghadapi program ini untuk bersama dalam suka dan duka selama 5 bulan.
Sabtu, 28 Februari 2009
Hollywood


Hollywood, Los Angeles
Sebelum kembali ke tanah air, dari Washington saya mampir lagi ke Los Angeles, dimana disana ada tetangga dan teman main saya dari kecil Dewi. Kapan lagi jalan-jalan ke Los Angeles mumpung masih di Amerika. Untung saja hal itu saya lakukan sebab ternyata dari tahun 1988 sejak saya menginjakan kaki di Ameriika Serikat, saya belum mendapat kesempatan lagi kesana. Setidaknya kalau saya lihat film Amerika yang hebat-hebat ternyata studionya biasa saja, tapi effect tata lampu dan peralatan yang canggih membuat film yang dihasilkan menjadi demikian hebat.
Di studio sangat ramai sekali sebab sedang liburan musim panas, selain penduduk lokal, banyak rombongan turis Jepang dengan dipandu oleh pemandu wisata yang membawa bendera dengan gaya disiplin dan sopan. Bahasa Jepang dalam arti selamat datang ataupun ucapan dari pembawa acara disetiap pertunjukan menandakan bahwa turis Jepang dihargai disana.Dengan uang yang ada mereka tidak perlu harus berbahasa Inggris, malah Amerika yang berusaha untuk menerima mereka dengan bahasa Jepang.
Tempat yang saya kunjungi ada beberapa, mungkin pembaca masih ingat bagaimana seramnya ikan hiu dalam film Jaws. Wah ternyata disana hanya sekedar kepala ikan hiu yang digerakkan oleh mesin dengan rel disebuah empang dengan latar belakang pemandangan laut yang besar. Kita naik perahu kecil dan dari jauh terlihat sang hiu gadungan mendekati kita dan akan membuka mulutnya lebar-lebar ketika sudah dekat. Penonton menjerit kaget dan senang melihat sang hiu palsu beraksi.
Tempat lain yang tidak kalah serunya adalah tempat shooting King Kong lengkap dengan sang King Kong disana dan suaranya yang menggelegar. Film ”The Ten of Comondements” memperlihatkan bagaimana laut dibelah oleh tongkat ajaib Nabi Musa, Tempatnya biasa saja dan tidak terlalu luas tapi kesan yang dihasilkan filmya menjadi nyata sekali. Tempat terakhir yang saya kunjungi adalah semacam cuplikan film ”Miami Vice”, dimana Don Johnson gadungan beraksi lengkap dengan tembakan dan ledakan serta api palsu dan kejar-kejaran di sepanjang sungai kecil yang mengitari panggung pertunjukan.
Perjalanan mengitari Hollywood dan dunia mimpi diakhiri dengan memakan hamburger, kentang dan coca cola, rasanya benar-benar seperti di Amerika.
Washington DC



Dalam program yang saya ikuti di Amerika Serikat tahun 1988, pulangnya saya menginap 2 hari dirumah tante saya yang tinggal di Maryland berbatasan dengan Washinton DC. Sebelum menginap kami tinggal dikampus selama 3 hari untuk evaluasi program dan perpisahan. Rasanya sedih sekali harus berpisah dengan teman-teman seperjuangan yang selama 5 bulan bersama dalam suka dan duka menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan. Tidak ada batasan warna kulit, agama dan darimana kita berasal, sebab kita merasa bersaudara setelah bergaul sekian lama.
Pada pesta perpisahan banyak teman yang mabuk, sebab begitu memang mereka mengekspresikan perasaan gembira dan sedih dengan banyak minum dan tertawa mengingat kejadian yang telah kita lewati bersama. Sahabat saya Paola dari Italy mengatakan saya tidak pernah meminum wine atau minuman berakohol lainnya, sebab dibandingkan dengan teman-teman muslim lainnya banyak yang tidak patuh pada aturan agama dan ikut mabuk-mabukan bersama teman yang non muslim. Keeesokan harinya pada saat perpisahan kami saling bertangisan, antara sedih mau berpisah dengan teman tapi juga bahagia sebab akan berjumpa dengan keluarga.
Saya dijemput oleh tante Lies dan om Santo yang kebetulan pada waktu itu mereka berdua masih bekerja di Kedutaan RI di Washington DC. Rumah mereka sangat asri dan cantik, didaerah perumahan yang tertata dengan baik.Mereka hanya mempunyai satu putrid yang kalau saya tidak salah ingat namanya Anne. Bersama mereka 2 hari saya diajak berkeliling Washington mengunjungi patung Abrahan Lincoln yang sangat besar, mengunjungi makam pahlawan di Arlington, dimana John F Keneddy dimakamkan..Banyak tempat yang saya mungkin sudah tidak ingat lagi secara persis namanya, diantaranya tempat dituliskannya nama-nama pahlawan Amerika yang gugur pada perang Vietnam yang dicantumkan namanya disepanjang dinding di taman yang indah..Saya juga mengunjungi museum antariksa dimana penuh sekali dengan anak sekolah yang ingin melihat berbagai kemajuan Amerika dibidang tersebut.
Satu hal yang saya tidak begitu menikmati disini adalah panjangnya antrean kalau kita mau beli minuman atau es krim, wah bisa antri paling cepat 10 menit ditengah teriknya matahari musim panas. Untuk orang bule mereka sangat menikmati musim panas yang dapat membuat kulit mereka sedikit berwarna dan tidak putih pucat. Untuk saya dengan kulit sawo matang, musim panas disana membuat warna kulit saya menjadi legam seperti tembaga, padahal seperti perempuan Indonesia pada umumnya saya malah ingin kulit yang agak putih.
Langganan:
Postingan (Atom)
